📰 Melacak Jejak Sejarah Desa Dulupi: Dari Perjalanan Raja Hulumani hingga Menjadi Desa Resmi di Boalemo
👤 Penulis: AnsarMS
👁️ Dilihat: 206 kali
💬 Komentar: 0
📅 28 Apr 2026
**Dulupi, Boalemo, 28 April 2026** – Desa Dulupi di Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, merupakan sebuah wilayah yang kaya akan sejarah panjang dan kisah pendirian yang melegenda. Jauh sebelum menjadi desa yang terstruktur, Dulupi adalah hutan belantara tanpa nama, menyimpan jejak peradaban yang bermula dari sebuah perjalanan pencarian yang gigih.
Sejarah Desa Dulupi diperkirakan terbentuk sekitar tahun 1782, berawal dari kedatangan orang-orang keturunan Raja Hulumani dari Boulemo, Sulawesi Tengah. Raja Hulumani, yang asalnya dari Duluwo Limo Pohala’a Gorontalo, tidak menemukan tempat atau kedudukan di tanah kelahirannya seperti Suwawa Bulano, Huwango Botu, Tenilo, dan Sabua. Hal ini mendorongnya untuk merantau dan pindah ke Boulemo dengan menggunakan perahu kecil. Di Boulemo, ia menikah dengan seorang wanita bernama Nurumani dan dikaruniai beberapa orang anak, salah satunya Palowa.
Rasa penasaran akan asal-usul dan arti "Boulemo" yang diketahui sebagai "lemon yang hanyut dan terdampar di tempat yang sangat harum" memicu perjalanan baru Raja Hulumani bersama putranya. Mereka memulai pelayaran dengan perahu untuk mencari pohon lemon tersebut. Setelah menelusuri sekian lama, mereka melihat sebuah pantai yang sangat indah dan terbuka hati mereka untuk singgah. Pantai inilah yang kelak dikenal sebagai Pantai Dulupi, meskipun pada waktu itu belum mempunyai nama resmi. Di sinilah mereka mulai menempati pemukiman, yang kemudian terus diperluas. Raja Palowa kemudian dikenal sebagai sosok yang memperluas daerah kekuasaan ke Tabongo Varia, Bualo, Olongia, Dulupi Huluk, dan sebagian Pangi, dengan menjadikan Olongia sebagai Kotaraja.
Warisan sejarah dari masa Raja Palowa masih lestari hingga kini, berupa sebuah buku yang lembarannya dari kulit (Tabongo), Batang Raja (Tongkat) yang kini ada di Desa Hungayonaa, serta Bitu’o yang berada di Desa Lamu/Mohungo. Keutuhan benda-benda ini masih terpelihara sebagai saksi bisu perjalanan sejarah desa.
Perkembangan administrasi desa dimulai pada tahun 1864 dengan terbentuknya "perkampungan" (Kampung) yang dipimpin oleh Tahlele Matowa. Ia berperan penting dalam mengatur kehidupan orang dan bermasyarakat, terutama di bidang tanah atau pertanian dan kepercayaan. Nama "Dulupi" sendiri baru resmi dikenal menjelang akhir masa pendudukan Jepang, sekitar tahun 1942-1945, di mana nama "Dulu Pilih" kemudian disempurnakan menjadi "DULUPI".
Pada tahun 1946, Dulupi memisahkan diri dari Olongia Kotaraja, Dulupi Huluk, Polohungo, dan Pangi. Sebagai bukti nyata batas wilayah Dulupi pada masa itu, sebuah jembatan yang menghubungkan Kotaraja dan Polohungo, yang dikenal sebagai Jembatan Dulupi (Hulude Seni) dan dibangun oleh penjajah Belanda, masih menjadi penanda sejarah. Sejak tahun 1946 ke atas, pemerintahan di Kampung Dulupi mulai berjalan resmi, hingga akhirnya pada tahun 1974, statusnya ditingkatkan menjadi sebuah Desa.
Kisah Desa Dulupi adalah cerminan dari kegigihan para leluhur dalam membangun peradaban dari hutan belantara, menciptakan sebuah identitas dan warisan yang terus dipegang teguh oleh generasi penerusnya di Boalemo. Sejarah singkat ini menjadi fondasi kuat bagi Desa Dulupi untuk terus berkembang di masa depan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.